Beberapa tahun terakhir, kontestasi antarpenyedia layanan jasa kurir semakin berkembang dengan kondisi persaingan antar-provider yang semakin ketat. Salah satu mekanisme yang digunakan untuk melihat output kontestasi antarpenyedia jasa kurir bisa kita lihat dari hasil survei Top Brand Award di interval tahun 2015 sampai 2017.
Indikator hasil survei berasal dari tiga parameter yakni top of mind share, top of market share dan top of commitment share. Dalam tiga tahun terakhir, JNE menjadi juara jasa kurir dengan Top Brand Indexpada tahun 2015 sebesar 43,5%, tahun 2016 sebesar 47,6% dan tahun 2017 berada pada 49,4%.
Para pesaing JNE dari provider swasta seperti TIKI juga masih tertinggal jauh. TIKI , selama tiga tahun terakhir memiliki persentase 36,2% pada 2015, 35,7% pada 2016, dan 34,7% tahun 2017. Sementara itu, layanan kurir Pos Indonesia tiga tahun terakhir memiliki persentasi 6,7% hingga 7,9%.
Sementara itu, DHL sebagai penyedia layanan yang telah mengglobal juga masuk dalam Top 4produk. Meskipun berfokus pada distribusi logistik atau kargo dengan kuantitas besar, DHL masih mendapatkan persentase yang baik dalam layanan pengiriman ekspres yang dilakukannya.
Persentase tiga tahun terakhir memang cenderung turun yaitu dari 2,1% pada tahun 2015 ke arah 1,3%. Akan tetapi, DHL masih mampu menarik minat pengguna layanan pengiriman ekspres di tengah persaingan yang ketat dan didominasi oleh JNE dan diikuti TIKI .
Jika kita melihat contoh perkembangan market share JNE sebagai provider yang mendapatkan permintaan terbesar, terlihat peningkatan signifikan pada tiap tahunnya. Pada tahun 2013 dan 2014, JNE telah melaksanakan jasa pengiriman barang rata-rata sebanyak 6 juta dan 8 juta kiriman per bulan. Sedangkan pada tahun 2015, rata-rata jumlah pengiriman barang mencapai 12 juta per bulannya. Pada tahun 2016 menunjukkan kenaikan sebesar 30% dibanding tahun sebelumnya dengan jumlah pengiriman hingga 16 juta kiriman dalam sebulan (www.jne.co.id).
BANDAR QQ - LARIS QQ
Dampak e-Commerce
Optimisme meningkatnya jasa kurir di Indonesia tidak terlepas dari menggeliatnya kegiatan e-commerce. Aktivitas transaksi online yang bertambah banyak memberikan sumbangsih terhadap peningkatan jasa pengiriman.
Menurut Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), pada kuartal pertama tahun 2017, volume jasa pengiriman telah tumbuh sekitar 14,7%. Jika dibanding tahun 2016, terjadi peningkatan intensitas perdagangan 5,7 kali lipat (iDEA dan Taylor Nelson Sofres).
Kemunculan pemain besar bisnis e-commerce seperti Bukalapak, Blibli, Blanja, Zalora, Alfacart, Matahari Mall, Alibaba, Tokopedia, hingga JD.ID memberikan pengaruh yang besar dalam peningkatan kuantitas pengiriman barang dalam beberapa waktu belakangan. Sumbangsih e-commerce terhadap jasa pengiriman ekspres juga tidak terlepas dari perubahan gaya hidup masyarakat yang menyukai sistem belanja online dengan pengiriman waktu yang cepat dan simpel.
Menghilangkan Hambatan
Di tengah situasi menggeliatnya jasa pengiriman ekspres di Indonesia, ternyata masih terdapat beberapa persoalan yang menghambat. Menurut Sekjen Asperindo Amir Syarifudin, terdapat tiga kendala utama yang menghambat industri ekspres di Indonesia yaitu infrastruktur, regulasi, dan sumber daya manusia.
Masalah infrastruktur berkaitan dengan masih belum terkoneksinya beberapa fasilitas transportasi publik seperti terminal, pelabuhan, maupun bandara. Presiden Jokowi dengan "mazhab" new developmentalism sudah berusaha untuk melakukan peningkatan infrastruktur dan deregulasi serta persoalan pemerintahan yang lain berkaitan dengan kedua tujuan pembangunan tersebut (Waburton, 2017).
Hingga tahun 2017, baru 13% proyek infrastruktur selesai. Tercatat 30 proyek telah selesai dari target 225 pada 2019. Pegiat industri jasa pengiriman ekpres baik provider maupun asosiasi pengusaha dapat melakukan lobying atau dialog kepada pemerintah untuk mempercepat pelaksanaan proyek infrastruktur yang dapat memfasilitasi sektor jasa ekspres.
Setidaknya lobying yang dilakukan dapat meningkatkan kuantitas penyelesaian proyek infrastruktur. Tentu, metode lobying maupun dialog dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti direct lobying, audiensi maupun special event.
Deregulasi merupakan salah satu langkah yang sudah dilaksanakan pemerintah untuk menggenjot industry logistik termasuk di dalamnya terkait dengan jasa pengiriman ekspres. Salah satunya adalah Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) No 153/2015 tentang Pengamanan Kargo dan Pos serta Rantai Pasok Kargo dan Pos yang Diangkut dengan Pesawat Udara, menggantikan aturan sebelumnya Permenhub No 32/2015.
Akan tetapi, pemerintah perlu membuat beberapa regulasi tambahan seperti peraturan yang mendukung jejaring pembayaran biaya logistic yang lebih mudah, terkoneksinya data pengiriman barang secara online di seluruh bandara. Dampak yang diharapkan dari adanya deregulasi tersebut adalah biaya logistik yang murah, jejaring pelayanan yang luas dan waktu pengiriman yang dapat diperpendek.
Salah satu persoalan yang tidak boleh dilupakan adalah persoalan peningkatan SDM dalam industri jasa pengiriman. Salah satu metode yang bisa dilaksanakan untuk meningkatkan sumberdaya di sektor ini adalah dengan melaksanakan mekanisme triple helix. Secara definitif konsep triple helixmerupakan mekanisme untuk menumbuhkan inovasi kemitraan universitas, industri, dan pemerintah.
Akan tetapi definisinya tidak berhenti sampai di situ, menurut Farinha dan Ferreira (Susanto, 2016), triple helix merupakan model yang menjelaskan tentang bagaimana universitas memainkan peranan penting dalam meningkatkan kualitas para sarjananya.
BANDAR SAKONG - LARIS QQ
Jika selama ini pengembangan SDM di Indonesia belum menjadi prioritas, pemerintah dituntut untuk membuat regulasi yang membuat sinkronisasi antara industri, pemerintah dan universitas bisa terjalin dalam industri pengiriman jasa.
Beberapa waktu belakangan hanya beberapa pihak saja secara parsial menjalin kerja sama antara pihak pelaku industri dan universitas. Untuk itu, pemerintah harus mendorong sebuah regulasi yang bisa mensistematikan pelaksanaan triple helix dalam sektor pengiriman jasa.
Diharapkan dengan adanya triple helix muncul sebuah koneksi antara kurikulum yang diterapkan dalam lembaga universitas sesuai dengan kebutuhan yang ada dalam industry pengiriman jasa ekspres yang ada di Indonesia. Akan muncul pemuda usia produktif yang memiliki skill dan kapasitas untuk mendorong peningkatan sektor ini


Tidak ada komentar:
Posting Komentar